Laman

Minggu, 29 Mei 2011

Benarkah Ilmu adalah Segalanya?

MA yang merupakan kepanjangan dari Madrasah Aliyah adalah sekolah setingkat SMA yang materi pelajarannya berfokus pada agama Islam. Banyak sekali sekolah MA di Jepara, tempat asalku. Tetapi sayang sedikit sekolah negeri di daerahku, kabanyakan adalah sekolah swasta yang didirikan oleh pemuka agama atau tokoh masyarakat di daerah tertentu.

MA Walisongo, ya itulah nama sekolahku. Sekolah swasta yang merupakan bagian dari yayasan Walisongo, dimana didalamnya tidak hanya MA, terdapat sekolah lain seperti SMP, Mts, SMA, SMK, dan Madrasah Diniyah. MA Walisongo cukup jauh dari rumahku, sekitar 15 menit mengendarai sepeda motor, dan bisa mencapai setengah jam jika menggunakan angkudes (angkutan pedesaan). Walau saat Mts, orangtuaku menyuruhku untuk sekolah yang dekat saja, tetapi hati kecilku berkata masih banyak ilmu diluar sana.


Fathur Rohman, itulah diriku yang kata orang hitam, kurus, dan mungkin kurang bisa merawat diri. Ya, memang bisa dibilang diriku tidak mengutamakan penampilan. Ayahku seorang wiraswasta, bahasa halus dari seorang pekerja serabutan. Tetapi jangan salah, ayahku spesialis kayu. Kayu mentah bisa disulap jadi kursi, meja, dan lemari. Sedangkan ibuku tidak bekerja, dia adalah ibu rumah tangga yang sangat setia kepada ayahku. Pekerjaan sehari-harinya adalah masak, mencuci, dan beres-beres rumah. Sungguh beruntung ayahku mendapatkannya.

Angin memang membawaku ke tempat yang tepat, dengan berpondasikan pendidikan agama sejak kecil tidak membuatku kaku dengan mata pelajaran agama yang disajikan. Konon kabarnya, MA Walisongo adalah sekolah untuk kalangan elit, biaya mahal dan eksklusif. Memang itu yang kudengar dari sebagaian orang tentang tempat ini, tapi menurutku biayanya sama saja. Kutak gentar dengan kabar tersebut, yang kupilih saat itu adalah ilmu. Tuntutlah ilmu sampai negeri China.

Dengan bermodalkan semangat dan biaya awal dari orangtua, tahun pertama terasa biasa saja. Tidak ada yang menonjol dariku. Kubergaul dengan kelas D, dimana kelas ini adalah kelas yang paling terbelakang. Pembagian kelas disini, kelas dikelompokkan berdasarkan nilai terbaik dan berturut-turut ke nilai terjelek, sehingga kelas terbaik ke kelas terjelek menjadi kelas A, B, C, dan akhirnya D. Lho? Kenapa aku bisa di kelas D, padahal nilaiku tidak begitu jelek saat UAN. Ya, karena saat itu aku belum memberikan ijazah dan nilainya ke sekolah, sehingga diriku terpaksa di kelas D. Dengan orang-orang yang bisa dibilang nakal, selama setahun aku bergaul dengan mereka. Tetapi jangan salah, itu bukan suatu kerugian besar. Banyak sekali ilmu yang kudapat dari mereka, ilmu bergaul, ilmu mencari cewek, dan lain sebagainya. Hahahaha....

Saatnya kelas dua, penjurusan dimulai. Jiwaku adalah jiwa IPA, dan ada tiga jurusan yang harus dipilih saat itu, IPA, IPS dan Bahasa. Kata hatiku memilih IPA, tetapi sebagian besar kelas D memilih IPS. Ya, aku memang agak melenceng dari pemikiran mereka, tetapi tak apalah, aku sekolah menuntut ilmu bukan mengikuti mayoritas. Meskipun demikian ada dua orang yang masuk IPA dari kelas D. Temanku yang satu ini adalah seorang wanita.

Masuk kelas 2, makin tambah teman yang bisa dibilang “satu logika” denganku. Dan yang lebih menyenangkan, aku bertemu dengan guru matematika yang hebat, Pak Eko namanya. Ilmu dan logikaku semakin terasah tajam. Karena beliau, aku mendapatkan pengalaman yang sangat jarang aku temukan. Pelajaran fisikapun terasa menyenangkan karena memahami matematika. Tidak hanya itu, aku mendapatkan beasiswa dari sekolah. Aku bersyukur mendapatkan beasiswa bebas SPP selama 5 bulan karena mendapatkan peringkat satu pada periode semeter tersebut, cukup untuk membantu orang tua mebiayai sekolah.

Pada suatu saat, terdapat olimpiade sains tingkat kabupaten. Pak Eko mengajakku untuk mengikuti olimpiade matematika. Tetapi dilain sisi terdapat temanku yang jago matematika, Haris, tapi tidak lancar dalam fisika. Dilema membebaniku saat itu, bila kuikuti yang matematika, maka Haris tidak bisa ikut olimpiade tersebut. Jika kuambil fisika, Haris bisa mengikuti olimpiade matematika, dan kita berdua bisa menjalani olimpiade ini. Akhirnya atas desakan teman-teman yang lain dan bujukan terhadap Pak Eko kumengambil fisika dan Haris mengambil matematika. Semoga keputusan yang kuambil benar, dalam hati kuberbisik.

Setelah mengerjakan soal dan mendapatkan pengumumannya, tak pernah terpikir aku memenangkan perlombaan tersebut dengan mendapatkan juara pertama. Bukan hanya aku saja, temanku Haris juga memenangkan lomba tersebut. Kusenang sekali keputusan yang kuambil saat itu tidak salah. Karena kemenanganku dalam bidang fisika, aku diundang ke Semarang untuk mengikuti karantina selama satu bulan mendalami fisika.

Hikmah yang kuambil dari kisah ini adalah bukan uang yang mendatangkan kesuksesan, tetapi ilmu, meskipun dengan usaha yang cukup keras. Dan tidak mementingkan kepentingan sendiri; walaupun memang kita bisa di beberapa bidang, memberikan kesempatan kepada orang lain untuk bersama-sama meraih kesuksesan merupakan kesuksesan tersendiri.

Setahun berlalu, dan tiba saatnya Ujian Akhir Nasional. Mata pelajaran yang diujikan saat itu adalah matematika, bahasa Inggris, dan bahasa Indonesia. Puji syukur masih kupanjatkan kepada-Nya, aku lulus dengan nilai yang cukup memuaskan meskipun bukan yang peringkat satu. Apalah artinya peringkat? Peringkat bisa ditulis dengan angka dan mempunyai batas maksimal. Ilmu tidak dapat disimbolkan dengan angka, ilmu banyak sekali ragamnya. Nilai 100 bukan berarti menguasai bidang ilmu tersebut dengan sempurna. Ilmu akan benar-benar terbukti nanti dimasa mendatang, di masyarakat, dengan memanfaatkan ilmu yang telah didapat dikehidupan nyata.

Setelah lulus MA, aku tak langsung kuliah. Ya lihatlah penghasilan orang tuaku sebagai tukang kayu. Gaji yang bisa didapatkan dalam seminggu bilanglah Rp.250.000, dan itupun terkadang tidak tepat waktu. Sebulan bisa mencapai Rp.1.000.000. Tetapi uang tersebut tidak akan berwujud uang dalam akhir bulan, uang tersebut akan berwujud kebutuhan makan sehari-hari dan kebutuhan yang lain. Dan bila digunakan untuk biaya pendaftaran kuliah, cukupkah? Ya tentu saja cukup, bila tidak makan. :)

Ah,, bagaimana aku bisa kuliah? Aku bingung. Aku ikut SNMPTN saja kalo gitu, siapa tahu ada keringanan disana. Tahun 2007 kuikuti SNMPTN, ku memilih di UNNES saat itu. Ramai-ramai ku mendaftar dan mengikuti tesnya bersama teman-teman Aliyah. Dan tiba saatnya pengumuman, namaku tertulis di daftar orang yang lolos. Alhamdulillah. Ku senang sekali, langsung aku mencari bagaimana caranya kumasuk di UNNES, ternyata masih ada biaya masuk. Mungkin biaya itu tidak terlalu besar bila dibandingkan dengan biaya registrasi biasa. Tetapi masih saja, kantongku tidak cukup untuk membayar biaya tersebut. Dengan berat hati, kulepas kesempatanku lolos SNMPTN.

Aku berjanji pada diriku saat itu, aku akan menabung selama satu tahun dan akan ikut SNMPTN lagi tahun depan. Hasil tabungannya akan kugunakan untuk membayar biaya pendaftaran.

Kebetulan suami kakak sepupuku bisa memberiku pekerjaan, karena berasal dari Jepara yang khas dengan ukiran kayunya, aku belajar mengukir dari beliau. Aku belajar mengukir yang sederhana, istilahnya kasaran. Sedikit demi sedikit kukumpulkan uang dari hasil mengukir kayu, uang pun terkumpul dari hasil keringatku sendiri. Selama enam bulan kubekerja, hasil yang kudapatkan masih tidak mencukupi untuk membayar biaya tersebut. Ditambah, keadaann orangtuaku sedang krisis, sehingga beberapa dipinjam orangtuaku untuk menyambung hidup. Ku coba berpikir realistis, masih mungkinkah ada kesempatan untuk menuntut ilmu lebih tinggi? Keputus asaan mengahampiriku saat itu. Enam bulan selanjutnya setengah hati kubekerja, hingga akhirnya tak bekerja dan dirumah sendiri.

Setahun telah berlalu, kali ini aku ikut SNMPTN kembali. Dukungan dari orangtua masih penuh 100%. Kucoba meraih mimpi dan cita-cita menggapai ilmu setinggi-tingginya, khususnya sains. Selain SNMPTN, aku juga meminta bantuan dari guru-guruku di Aliyah, Pak Najib, beliau yang sangat membantuku. Tapi tidak hanya di Aliyah, guru di yayasan Mts-ku juga memberiku bantuan informasi adanya beasiswa penuh Paramadina. Tanpa pikir panjang kuisi formulir dan berkas-berkasnya dengan bantuan dari Pak Najib dan guru-guru lainnya. Semua bantuan ini kuyakin datangnya dari Allah yang telah mendengarkan doaku selama ini.

Akhirnya aku diterima kembali melalui jalur SNMPTN, atas bantuan seorang teman yang telah kuliah di UNNES, aku meminta informasi keringanan pembayaran ke rektorat. Ternyata tiap tahun biaya pendaftaran selalu meningkat, biaya yang sudah dipotong keringanan dengan mengangsur masih saja terlalu besar buatku. Harapanku tinggal menunggu beasiswa dari Paramadina.

Keluar dari rektorat, telepon genggamku berdering, nomor asing yang terlihat dilayar. Kuangkatlah telepon tersebut, ternyata itu adalah telepon dari Paramadina yang menanyakan kesedianku terhadap beasiswa di Paramadina. Spontan langsung kujawab “bersedia”. Dan setelah bertanya tentang kesedianku, dia bilang akan kembali menghubungi kembali. Semoga saja aku diterima di Paramadina, harapku dalam hati.

Setelah sholat dzuhur di masjid UNNES, telepon genggamku berdering kembali. Dan saat itu pula, Paramadina menyatakan aku diterima, tetapi masih pada cadangan. Cadangan berarti masih menunggu dari pihak pendonor, apakah jadi mendonorkan atau tidak. Bila tidak menjadi mendonorkan maka beasiswa tidak jadi aku terima. Aku pun langsung melihat di website Paramadina, apakah ada namaku, memang benar ada namaku dan sebagai cadangan. Selama beberapa hari aku tidak bisa tidur gara-gara kata “cadangan”. Aku berdoa kepada Allah agar diterima melalui beasiswa ini. Hingga pada akhirnya aku dihubungi kembali dan dinyatakan diterima sebagai mahasiswa Paramadina jurusan Teknik Informatika.

Pada mulanya guruku sempat pesimis, mengapa aku memilih Teknik Informatika, padahal aku dari Madrasah Aliyah. Kesempatan akan lebih besar jika kumemilih Falsafah dan Agama karena memang sudah mempunyai dasar di MA. Tetapi tak mengapa, itulah jalan yang telah diberikan Yang Diatas kepadaku, dan kuyakin jalan yang Dia tentukan adalah jalan yang terbaik untukku. Hingga sekarang aku menjadi mahasiswa Paramadina dengan beasiswa penuh dari donatur Bapak Gita Wiryawan, sehingga namaku menjadi Fathur Rohman Paramadina Gita Wirjawan Fellow.

Lagi-lagi kuambil hikmah dari kisah hidupku ini. Pertama, disaat keputusasaan melanda hanya Dia-lah tempat satu-satunya berharap, dan bagaimanapun susahnya hidup ini Dia sudah memberikan jalan terbaik bagi hambanya. Kedua, informasi itu sangat berharga, banyak teman-teman kita diluar sana dengan kemampuan luar biasa yang tidak dapat mengenyam pendidikan lebih lanjur hanya dikarenakan tidak mengetahui kesempatan emas berlapis perak yang ada. Ketiga, berakit-rakit kita ke hulu berenang ketepian, bersakit dahulu bersenang-senang kemudian.

Fathur Rohman
Paramadina
Gita Wirjawan Fellow

1 comments:

  1. Rahayu, follow sukses di urutan #20, ditunggu re-follownya di http://wilwatiktamadani.blogspot.com. Thanks.

    BalasHapus

Setelah membaca tinggalin komennya ya....
makasih :)