1 Desember, awal bulan di akhir tahun 2010 ini kami, mahasiswa TI Paramadina berkunjung ke tempat yang bagus di Jakarta. Tempat ini adalah tempat dimana kegiatan forensik terhadap kejahatan dilakukan. Hmmm....
Yup, tempat ini adalah Pusat Laboratorium Forensik Bareskrim Polri. Letaknya di Kebayoran Baru, dekat Blok M.
Sebelum ke tempat ini, sebelumnya di Paramadina pernah terdapat kuliah umum tentang cybercrime bersama Bapak Petrus Golose (semoga tidak salah menyebutkan namanya). Nah kali ini, bukan sumbernya yang berbicara di Paramadina tetapi kamilah yang datang ke sumbernya.
Pertama-tama kami masuk ke wilayah Bareskrim Polri. Waduh!!!! Polisinya galak amat, baru masuk pagarnya saja sudah dipanggil.
“Mas, mas, almamaternya dipakai saja mas!!”
“Siap pak!!”, saut saya. Hehehe....
Ya,,, tapi gapapa-lah,,, positive thingking, itu namanya disipilin. Dan untuk membantu para polisi mengenali bahwa saya bukan orang asing, tetapi mahasiswa yang sedang berkunjung.
![]() |
| Mahasiswa Paramadina Mendengarkan Presentasi Forensik |
Beliau juga menerangkan salah satu alat dalam forensik adalah lie detector. Lie detector adalah sebuah alat untuk mendeteksi kebohongan. Konsep yang dilakukan adalah dengan memantau perubahan emosi, yang dapat berupa detak jantung, keringat, tingkah laku. Lie detector nanti akan berupa polygraph. Pertama-tama tersangka akan ditanyakan yang jawabannya “iya”, contoh seperti apakah kamu laki-laki? (Jika pelaku laki-laki). Maka akan terbentuk pola di layar dan direkam. Selanjutnya tersangka ditanya yang jawabannya “tidak”, dan direkam lagi polanya. Selanjutnya diberi pertanyaan yang tajam, sehingga didapatkan sekumpulan pola atas tersangka tadi. Barulah diberi pertanyaan atas kasus yang terjadi.
Lab Forensik pada saat saya menuliskan tulisan ini hanya ada 6 cabang di seluruh Indonesia, yaitu Palembang, Semarang, Denpasar, Medan, Makasar, dan Surabaya. Dan pusatnya ada di Jakarta.
Selanjutnya setelah Bapak Agus Irianto yang telah menjelaskan secara umum tentang laboratorium forensik, maka berikutnya adalah Police Major Muhammad Nuh al-Azhar, M.Sc. Beliau menerangkan tentang spesifikasi forensik di bidang komputer. Kita panggil saja Pak Nuh, beliau mengenakan seragam keren bertuliskan DFAT. Apaan sih DFAT?
Setelah ia jelaskan, kurang lebih DFAT atau Digital Forensik Analyst Team adalah tim untuk melaksanakan forensik di bidang komputer. DFAT mulai menerima pekerjaan pada tahun 2006 dan resmi didirikan pada tahun 2010 ini.
Sistem operasi yang digunakan disini adalah Windows 7 dan Linux Ubuntu. Tetapi untuk beberapa kasus, Linux lebih powerfull daripada Windows. Salah satu contohnya adalah pada saat cloning harddisk. Ternyata saat tim forensik memeriksa harddisk, harddisk tersebut (dan tidak terbatas untuk harddisk) dari mulai di ambil dari TKP hingga di periksa tidak boleh ada perubahan atas data di harddisk tersebut. Bahkan hanya membukanya saja itu termasuk mengubah. Sehingga sebelum diapa-apakan harddisk tersebut harus diproteksi terlebih dahulu. Hmm,,, ternyata begitu....
Tim Forensik di Indonesia menganut prosedur dari ACPO (Association of Chief Police Officers), prinsip yang digunakan oleh ACPO kurang lebih adalah:
- tindakan penyidik tidak boleh mengubah data yang ada dalam sebuah media elektronik sebagai media penyimpanan;
- dalam hal penyidik harus mengakses data pada komputer atau media penyimpanan yang akan menjadi bukti, penyidik yang melakukan harus dapat memberikan penjelasan yang relevan atas tindakan yang dilakukan dan implikasi dari tindakannya tersebut.
- Penyidik harus membuat catatan atas segala tindakan yang dilakukan terhadap bukti digital.
- Penyidik bertanggung jawab penuh atas dipenuhinya aturan hukum dan prinsip penanganan bukti digital.


info menarik thur. Banyak segi kepolisian yang belum diketahui masyarakat, dan salah satunya 'dibongkar' di sini... kapan-kapan aku tak ke sana ah..
BalasHapusiya jazzz,,, untunglah kita sudah memiliki tim forensik atas kejahatan2 yang ada di indonesia. Tidak bergantung pada luar negeri,,, walaupun dikit,, tetapi sebaiknya itu membuka mata masyarakat bahwa kejahatan sekarang dapat ditelusuri dengan teknologi.
BalasHapusKalau mau kesana, siap2 mental, ketemu ama pak polisi,,,
hahaha....